4 KEBIJAKAN YANG DI KELUARKAN PEMERINTAHAN PRESIDEN JOKOWI TERLALU GLOBAL TIDAK SPESIFIK DENGAN KEBUTUHAN PARA INVESTORS

DSC00307_60

PRESIDEN JOKOWI Harus lebih Fokus Pada Kebutuhan Indonesia dengan Gagasan Visi, Misi Indonesia dengan Spesifik, Sebagai Solusi Negara Exit dari Krisis Defisit Keuangan dengan Strategi yang lebih Efektif, Sempurna, Atraktif dan Kompetitif.

Rakyat mau Jawaban yang Solid dan Konkret, Menjawab Inspirasi dan keluhan benak hati yang telah lama tersirat dibenak hati seluruh Rakyat Indonesia selama 70 tahun Indonesia Merdeka, dengan sebuah Visi, Misi dan Solusi yang luar biasa dengan Real Revolution Mental dengan Berani Mewujudkan Mimpi Besar yang Luar Biasa yang bisa mengguncang Dunia ini.

Kita anggap Krisis Ekonomi dunia ini sebagai “Opportunity” Bagi Indonesia membuktikan bangsa Indonesia yang Brilian dan Genius, Sebagai Pemimpin Yang Sekelas Pemimpin Negara-Negara Maju dunia dengan KEBIJAKAN Strategi dengan Pola Pikir bangsa Indonesia, Indonesia bisa Exit dari ancaman Krisis Defisit Keuangan dan Ancaman Anjloknya nilai rupiah dalam 6 bulan ke depan.

Krisis Defisit Keuangan Indonesia akan bertambah Parah setelah Gagalnya, Beberapa Strategi Awal “Bail Out Finansial Market”, Pemerintah dengan Strategi “Buy Back Saham” Pasaran Keuangan Pasar Modal Efek Jakarta, telah Menginvestasi sejumlah Rp 30 Triliun Rupiah Modal Investasi melalui Investasi Anak Perusahaan BUNM bulan Agustus 2015 lalu, tidak mendampakkan Perubahan Signifikan dalam perkembangan Indeks Pasaran Keuangan, Efek Jakarta tetap terus buntu ditahapan level 4,400 poin dari 5,500 poin sebelum Pemerintahan Jokowi dan Nilai Rupiah ditahap Rp 13,200, Pemerintah Jokowi mengharapkan Pasaran Modal Keuangan bertahan dibawah 4,000 poin dan Nilai Rupiah bisa bertahan bisa bertahan pada nilai dibawah Rp 14,000 per Dolar Amerika. Tetapi Malang sekali Dana “Bail Out atau Buy Back” Strategi Pemerintah hanya sia-sia, Rp 30 Triliun ini hilang dan strategi Pemerintah ini Membantu Para Investor Asing keluar dari Pasaran Efek dengan lebih mudah untuk mereka melokasikan investasi mereka ke Negara lain yang lebih menjaminkan Investasi yang lebih aktraktif dan Menguntungkan Mereka.

Hutang Luar Negeri Indonesia akan terus bertambah dan Nilai Rupiah tetap terus Anjlok ke tahap Rp15,000 ke Rp 17,000 pada bulan Dec 2030 ini.

Situasi dan Strategi Penyelamat Pola Strategi ala Pemikiran IMF, World Bank ADB dan Negara-Negara Kuasa Ekonomi lain ini, sudah siap untuk Menggagalkan Impian Indonesia, Supaya Indonesia terus Meminjam Dana Asing dari mereka, seperti sudah dijanjikan kepada Indonesia sudah pinjam USD 11 Milyar dari World Bank dan ABD pada bulan Juni 2015 dan Proyek Jalan Tol Bali terpaksa digadai sebagai Collectrol/ Jaminan Pinjaman dan Bertambah Beban Hutang Luar Negeri Indonesia.

Strategi ini Nenyelesaikan dengan Jalan Pintas Pinjam Dana Asing adalah sama Artinya Membunuh diri Menyerah Kepada Negara-negara penguasa Ekonomi dunia sebagai Era Penjajahan Ekonomi, harus dihentikan sekarang. Kalau Pemimpin kita tidak mau Menjual Indonesia Kepada Penjajah Ekonomi Dunia.

Semua dana kebutuhan Indonesia sudah disiapkan sesuai permainan Politik Ekonomi Mereka untuk menjadi Penguasa Ekonomi dan Intervensi Pemerintah Indonesia, oleh Negara-Negara kuasa besar apa bila Indonesia Gagal Membayar Hutang Luar Negeri Indonesia?, Ini sama Artinya “Indonesia Sudah diJual kepada Mereka”.

Jangan Tunggu Kondisi dan Situasi Perekonomian Indonesia sehingga menjadi lebih Parah dengan Serangan Nilai Rupiah sampai ke tahap nilai Rp 15,000 per Dolar Amerika, Situasi Ini telah terlalu Parah karena Indonesia akan Senasib Uni Soviet hancur dan Bangkrut seperti Yunani.

Sampai Saat ini Pemerintah Jokowi Masih Belum Komited dengan KEBIJAKAN Pemerintah dengan lebih Spesifik. Cuma ada 4 Kebijakan yang baru diumumkan oleh Menteri Keuangan seperti cover photo text ini, yang masih Global, tidak Spesifik dan tidak seperti yang dientrikan.

Harapan besar Publik, Para Investors dan Para Pengusaha tidak menyambut baik undangan Misi Kampanye Investasi Presiden Jokowi ke luar negeri terbukti tidak menarik dengan Maximal, Karena tidak ada KEBIJAKAN yang Menjaminkan Satu Komitmen Sistem dan Regulasi yang lebih Konsisten, Efektif, Konkret dan Kompetitif.

Strategi yang boleh menarik respon Publik dengan lebih Drastis, Efektif dan Atraktif.

Strategi yang Menjaminkan dan Mengembalikan “Kepercayaan Dan Keyakinan Para Pengusaha dan Para Investors dengan lebih Efektif dan Kompetitif.

Dr. Muhammad Asmi Program Director I AM PRESIDENT INSTITUTE BOGOR

Comments are closed.